Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dikdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dikdas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

5 MACAM KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

By slamet al matra | At 23.40.00 | Label : | 0 Comments

Anak yang memiliki kecerdasan emosioanal yang tinggi akan lebih memiliki kecakapan lebih bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki kecerdasan intelektual saja. Anak yang memiliki kecerdasaan emosional yang baik maka biasanya anak tersebut akan mudah bergaul, memiliki kepribadian yang lebih banyak disukai oleh orang lain dan cenderung memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat karena anak mampu mengelolah emosinya dengan baik. Aspek – aspek kecerdasan anak dapat dibagi menjadi 5 macam, yaitu :
1. Kecerdasan untuk mengenali emosi sendiri
2. Kecerdasan mengelola emosi
3. Kecerdasan memotivasi diri
4. Kecerdasan untuk mengenali emosi orang lain
5. Kecerdasan sosial
Lima aspek kecerdasan emosi anak sebaiknya dibina sejak anak usia dini. Keberhasilan dalam membentuk kecerdasan emosional akan sangat membantu anak dalam mengarungi kehidupannya kelak. Kondisi hati dan jiwa yang tenang akan mampu untuk menyelesaikan permasalahan dengan baik. Karena tidak mungkin manusia hidup tanpa masalah, termasuk juga anak. Semua orang punya masalah, tinggal yang membedakannya adalah bagaimana cara menghadapi masalah tersebut. Kombinasi yang baik antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi akan membuat permasalahan mudah untuk diselesaikan. Tentunya dengan ijin Allah Sang Maha Pencipta.
CARA MEMBANGUN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK SEJAK DINI
1. Mengembangkan kasih sayang
2. Mendidik tata krama kepada pada anak
3. Menumbuhkan rasa empati pada anak
4. Mengajarkan kejujuran dan berfikir realistis kepada anak
Kecerdasaan emosional anak harus distimulasi sejak anak usia dini. Luangkan waktu minimal 20 menit setiap harinya untuk memberikan dan menemani anak. Bangun komunikasi yang baik dengan anak agar terjalin hubungan keluarga yang harmonis yang akhirnya bisa menghantarkan anak menemukan jati dirinya dan siap untuk menghadapi tantangan jaman dengan segala permasalahannya.
Bisa dengan mendongeng dan bermain yang kreatif

Rabu, 12 Juni 2013

Contoh Silabus dan RPP Kurikulum 2013

By slamet al matra | At 18.14.00 | Label : | 0 Comments

Salah satu perbedaan yang cukup signifikan antara Kurikulum 2006 (KTSP) dengan Kurikulum 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Dalam Kurikulum 2006, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Meski tidak lagi direpotkan membuat silabus sendiri (diambil alih kewenangan guru?), seorang guru tetap saja dituntut untuk dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, upaya telaah (kajian) silabus tampak menjadi penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok (khususnya melalui kegiatan bedah silabus dalam forum MGMP), sehingga diharapkan para guru dapat memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami  seluruh isi silabus yang telah disiapkan tersebut.
Sementara untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rencana Kegiatan Harian) tampaknya masih tetap menjadi kewenangan dari guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.
Yang membuat penasaran dan mungkin sering menggoda fikiran kita, kira-kira seperti apakah RPP yang sejalan dengan semangat dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikehendaki oleh Kurikulum 2013?  Saya beruntung menemukan sebuah model RPP yang bisa kita jadikan referensi. Model ini saya peroleh dari komunitas FaceBook Ikatan Guru Indonesia, hasil Seminar Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Surabaya, 17 Maret 2013.
Memperhatikan contoh silabus dan RPP yang diajukan ini, saya melihat ada nuansa yang berbeda dengan RPP yang dikembangkan selama ini, diantaranya:
  • Langkah-langkah pembelajaran tidak lagi mencantumkan secara eksplisit dan detil tentang siklus eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, tetapi telah terbingkai secara utuh, dengan merujuk pada metode pembelajaran yang dipilih.
  • Nilai-nilai dalam pendidikan karakter tidak hanya sekedar “ditempelkan” dalam rumusan tujuan atau langkah-langkah pembelajaran.
  • Dan yang paling utama, pendekatan pembelajaran yang hendak dikembangkan telah menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang lebih mengedepankan peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Sementara guru  lebih banyak menampilkan perannya sebagai pembimbing dan fasilitator belajar siswa (lihat langkah-langkah dalam kegiatan inti).
Anda ingin mengunduh Model Silabus dan RPP tersebut? Silahkan klik tautan di bawah ini:

Senin, 10 Juni 2013

Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya

By slamet al matra | At 19.04.00 | Label : | 0 Comments

Berdasarkan tujuannya, iklan dibagi menjadi Comercial Advertising, Corporate Advertising, Public Service Advertising.
  1. Comercial Advertising
    Iklan jenis ini bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau jasa. Iklan ini terbagi menjadi dua: a. Iklan Strategis
    Digunakan untuk membangun merek. Hal itu dilakukan dengan mengkomunikasikan nilai merek dan manfaat produk. Perhatian utama dalam jangka panjang adalah memposisikan merek serta membangun pangsa pikiran dan pangsa pasar. Iklan ini mengundang konsumen untuk menikmati hubungan dengan merek serta meyakinkan bahwa merek ini ada bagi para pengguna.
    b. Iklan Taktis
    Memiliki tujuan yang mendesak. Iklan ini dirancang untuk mendorong konsumen agar segera melakukan kontak dengan merek tertentu. Pada umumnya iklan ini memberikan penawaran khusus jangka pendek yang memacu konsumen memberikan respon pada hari yang sama.

  2. Corporate Advertising
    Iklan yang bertujuan membangun citra suatu perusahaan yang pada akhirnya diharapkan juga membangun citra positif produk-produk atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut. Iklan Corporate akan efektif bila didukung oleh fakta yang kuat dan relevan dengan masyarakat, mempunyai nilai berita dan biasanya selalu dikaitkan dengan kegiatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Iklan Corporate merupakan bentuk lain dari iklan strategis ketika sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada Public. Iklan Corporate sering kali berbicara tentang nilai-nilai warisan perusahaan, komitmen perusahaan kepada pengawasan mutu, peluncuran merek dagang atau logo perusahaan yang baru atau mengkomunikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar.
  3. Public Service Advertising
    Iklan Layanan Masyarakat merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan menjual gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat. Biasanya pesan Iklan Layanan Masyarakat berupa ajakan, pernyataan atau himbauan kepada masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan demi kepentingan umum atau merubah perilaku yang “tidak baik” supaya menjadi lebih baik, misalnya masalah kebersihan lingkungan, mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, anti narkoba dan sebagainya.

Dengan Metode Bermain Anak SD Bisa Hafal Al-Qur'an 18 Juz

By slamet al matra | At 18.09.00 | Label : | 0 Comments
BANJARMASIN (voa-islam.com) – Kabar baik bagi umat Islam terutama praktisi pendidikan Al-Qur'an. Ditemukan metode menghafal Al-Qur'an sambil bermain dengan target lulusan SD hafal 18 juz.
Ratusan orangtua, guru, dan mahasiswa, Selasa (17/8/2010), antusias mengikuti pelatihan singkat revolusi menghafal Al-Qur’an dengan metode FAHIM QUR’AN (Fast Active Happy & Integrated in Memorizing Qur’an) di Masjid Baiturrahim Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Metode cepat dan ceria yang dikembangkan Ustadz Sobari Sutarip ini ternyata cukup efektif. Berdasarkan pengalamannya, anak lulusan SD bisa hafal Al-Qur’an sampai 18 juz.
“Pelatihan ini memang diikuti oleh orang dewasa, tapi aplikasinya untuk mengajarkan pada anak,” ujar ketua panitia, Rahina Ibaniati.
Untuk pelatihannya sendiri, akan diberikan tujuh materi: The power of al Qur'an, The power of Brain, Dunia anak, Teaching Personality, Metode FQ, Teknik Dasar Metode FQ, dan Simulasi.  
Selama ini belajar Al-Qur’an dianggap berat, sehingga jangankan menghafal, membaca saja anak sudah enggan. Tapi, dengan cara yang menyenangkan, Al-Qur’an menjadi indah di hati anak. Daya hafal anak tinggi, karena mereka tidak punya beban.
...Selama ini belajar Al-Qur’an dianggap berat. Kini menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan sambil bermain, sehingga anak lulusan SD bisa hafal Al-Qur’an sampai 18 juz...
Menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan sambil bermain. Misalnya, sekali meloncat, anak menghafal satu ayat. Ketika metode FAHIM Al-Qur’an diterapkan pada usia 5 tahun, cukup berhasil.
HM Abduh, salah seorang peserta, tertarik ikut karena penasaran dengan metode yang dianggap baru. Kesannya, ternyata memang bagus.
Pada sesi pertama diajarkan bagaimana caranya agar anak tertarik menghafal Al-Qur’an atas kesadaran sendiri. Termasuk mengenal fungsi-fungsi otak manusia, sehingga anak belajar tidak terpaksa.
“Kita juga diajari teknik-teknik yang baik, sehingga anak menjadikan kita seperti orangtua, guru, teman, dan idola. Dengan cara itu, anak senang menghafal Al-Quran,” ujar Abduh.
Ia berharap pelatihan ini terus berlanjut, supaya nanti anak-anak di Kalsel banyak yang hafal Al-Qur’an. Kalau ini bisa diterapkan oleh orangtua dan guru, tidak mustahil akan muncul hafiz dan hafizah terbaik yang mengharumkan nama Banua. [taz/tribun]

Jumat, 17 Mei 2013

Ranah Kognitif,Afektif dan Psikomotorik dalam Pendidikan

By slamet al matra | At 07.23.00 | Label : | 0 Comments

Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik.
Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.
Pengertian kognitif afektif psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar. Dalam setiap ranah ini juga terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih detail. Ketiga ranah itu meliputi :

1. Kognitif (proses berfikir )
         Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah.
    Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :
a. Pengetahuan (knowledge)
   Mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada  teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

b. Pemahaman (comprehension)
    Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.

c. Penerapan (application)
    Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.

d. Analisis (analysis)
   Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.

e. Sintesa (evaluation)
   Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.

f. Evaluasi (evaluation)
   Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.
Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.

2. Afektif (nilai atau sikap)
    Afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa.
Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :

a. Penerimaan (recerving)
   Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.

b. Pemberian respon atau partisipasi (responding)
   Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.

c. Penilaian atau penentuan sikap (valung)
   Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.

d. Organisasi (organization)
   Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.

e. Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)
    Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:
“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.

3. Psikomotorik (keterampilan)
    Psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.
Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :

a. Peniruan
   Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.

b. Manipulasi
   Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja. 

c. Ketetapan
    Memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

d. Artikulasi
    Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.

e. Pengalamiahan
   Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
  Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini.
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
  1. Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka?
  2. Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?
  3. Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. 

Sabtu, 04 Mei 2013

Metode Membaca Permulaan

By slamet al matra | At 16.36.00 | Label : | 0 Comments
  
 
Metode-metode membaca permulaan
      Metode adalah cara yang telah teratur dan terpilih secara baik untuk mencapai suatu maksud, cara mengajar (KBB,1984: 649). Sedangkan yang dimaksud dengan membaca permulaan adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa kelas 1 dengan tujuan agar siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan bahasa guna menghadapi kelas berikutnya.
Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada berbagai metode yang dapat dipergunakan , antara lain:

1. Metode abjad dan metode bunyi
     Menurut Alhkadiah,kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan kata-kata lepas, misalnya:
       Metode abjad              : bo-bo-bobo 
                                                la-ri-lari
       Metode bunyi              : na-na-nana
                                                lu-pa-lupa

2. Metode kupas rangkai suku kata dan metode kata lembaga
      Kedua metode ini menggunakan cara mengurai dan merangkaikan. Misalnya:
      Metode kupas rangkai suku kata        : ma ta-ma ta
                                                                          pa pa-pa pa
      Metode kata lembaga                            : Bola-bo-la-b-o-l-a-b-o-l-a-bola

3. Metode global
     Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi gestalt, yang berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna daripada jumlah
bagian-bagiannya.Memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat, untuk dibaca.

4. Metode SAS
    Metode ini dibagi menjadi 2 tahap, yaitu:  Momo(1987) mengemukakan beberapa cara yaitu:

1. Tahap tanpa buku, dengan cara:
- Merekam bahasa siswa
- Menampilakn gambar sambil bercerita
- Membaca gambar
- Membaca gambar dengan kartu kalimat
- Membaca kalimat secara struktual (S)
- Proses Analitik (A)
- Proses Sintetik (S)

2. Tahap dengan buku, dengan cara:
- Membaca buku pelajaran
- Membaca majalah bergambar
- Membaca bacaan yang disususn oleh guru dan siswa.
- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara berkelopok.
- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara individual.

      Metode ini yang dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS menurut Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:
  • Metode ini menganut prinsip ilmu bahasa umum, bahwa bentuk bahasa yang terkecil adalah kalimat.
  • Metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak.
  • Metode ini menganut prinsip menemukan sendiri.
Kelemahan metode SAS, yaitu:
  • Kurang praktis
  • Membutuhkan banyak waktu
  • Membutuhkan alat peraga
 

Total Tayangan Halaman

Arsip Blog

Copyright © 2012. Ruang Kelas SD - All Rights Reserved B.thank's to goggle by Theme Bamz

Selamat datang di Blog Slamet Al Matra'Portal Informasi Guru dan Operator Sekolah Dasar. Terima kasih telah berkunjung diblog kami,Semoga bermanfaat.